Anda adalah Apa yang Anda Pikirkan

Bagi kebanyakan orang, berpikir sudah menjadi laiknya makan, buang air besar, berjalan, bercerita, dan segala macam rutinitas harian. Kapan pun, di mana, dan dalam keadaan bagaimana pun, berpikir telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan. Tanpa sadar, pikiran kita membentuk apa yang ingin kita lakukan, yang kita rasakan, dan yang kita inginkan.

Jika Anda seorang yang tidak realistis—pikiran-pikiran Anda menyimpan pola pikir ini—, maka Anda akan menjadi orang yang paling sering mengalami kekecewaan. Jika pikiran Anda penuh dengan pola pikir pesimistis, maka segala sesuatu di sekitar Anda menjadi tidak menarik, membosankan, dan tidak memberikan apa-apa.

Coba Anda lakukan tes sederhana berikut: identifikasi beberapa contoh perasaan atau emosi yang sangat kuat yang saat ini Anda alami. Kemudian, identifikasi pikiran-pikiran yang berkaitan dengan perasaan ini. Misal, jika Anda merasa terpicu dan terangsang untuk bekerja keras, maka itu karena Anda berpikir pasti akan ada hasil positif dari kerja keras ini. Atau bisa jadi karena pikiran Anda menyatakan bahwa bekerja keras itu merupakan kewajiban seorang manusia, seorang beragama, atau seorang terdidik. Sebaliknya, Anda merasa tidak sepenuhnya (all out) bekerja, tidak serius, dan tidak tertantang, karena pikiran Anda menyatakan bahwa pekerjaan ini tidak memberikan apa-apa kepada Anda.

Berikut ini contoh yang paling berbahaya. Jika Anda sudah berpikir bahwa seseorang dari etnis tertentu atau agama tertentu memiliki karakteristik yang kurang baik dan tidak pantas diajak berkerja-sama, maka perasaan Anda akan penuh dengan kebencian, ketidaksukaan, kemuakan, dan segala perasaan yang dikategorikan sebagai benci. Selanjutnya, perilaku Anda akan tampak sinis, menjauh, membatasi pergaulan, atau paling mungkin Anda berpura-pura (supaya tampak Anda sebagai orang baik). Tidak usah heran kalau kemudian hubungan Anda dengan orang itu menjadi hubungan yang tak bermutu, penuh dengan kemunafikan, tidak bermanfaat, dan menjadi sumber konflik terselubung.

Saking seringnya berpikir, orang lupa bahwa berpikir merupakan kemampuan yang paling hebat yang dimiliki manusia yang mampu membuat hidupnya menjadi apa saja yang dia inginkan. Penyair Inggris John Milton (1608-1674), dalam karyanya Paradise Lost, menyatakan bahwa pikiran (berpikir) dapat membuat surga dari neraka, dan neraka dari surga. Sufi asal India Hazrat Inayat Khan bahkan berpendapat bahwa, “You are what you think” (Anda adalah apa yang Anda pikirkan). Jika kita berpikir siapa, apa, dan bagaimana kita, maka jadilah kita seperti itu. Ahli otak Marian Diamond lebih hebat lagi menyatakan bahwa pikiran (otak) dapat mengubah nasib. *

Sumber: Brain Management for Self Improvement, Dr. dr. Taufiq Pasiak, Mizan, 2007

 

Penulis : Taufiq Pasiak, ahli neurosains

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar