Fabel dan Budi Pekerti

Di setiap peradaban, ada binatang berbicara lewat tamsil. Kebudayaan dihidupkan oleh cerita-cerita binatang (fabel). Kita tidak sekadar berkunjung ke kebun binatang yang menampakkan kandang-kandang suram, tapi menuju semesta binatang yang “tidak sengaja” membagi pengalaman berpekerti. 

Pada tahun 1959, Balai Pustaka menerbitkan Dongeng-Dongeng Perumpamaan dari pengarang legendaris Jean De La Fontaine. Buku ini disadur oleh Trisno Sumardjo dan dilengkapi ilustrasi gambar oleh O. Effendi.  Ada cerita berjudul Andjing Jang Pandir: Betapa seringnja orang salah lihat,/ lantaran bajangan disangka hakikat./ Dalam hal ini kami ingin menuding/ para tjerita kuno tentang si andjing. Dimulailah cerita, Pahlawan kita ini menggondol daging/ dan melihat bayanganja di kolam bening,/ Pikirnja: Nah, tentu mangsaku lagi!”/ Lantas kedalam air ia mentjebur/ dan didapatnja upah hati jang dengki:/ Daging serta bajangannja lebur,/ Dan hampir tenggelam tubuhnja sendiri/ Kembali ketepi bolehlah ia bersukur,/ lantaran bebas dari harapan chajali.

Para binatang dengan segala pewatakan menjadi tempat melihat, menertawakan, atau menginsafi diri sendiri. Para binatang tidak menyampaikan pesan dengan perintah, kekerasan, kemarahan, atau doktrin yang sering bersifat memaksa. Bahkan dari kekonyolan dan kenaifan, binatang kadang menyampaikan hal-hal tentang rasa syukur dan ketamakan.

Pelbagai daerah di Indonesia akan kehilangan biografi diri tanpa cerita rakyat. Salah satunya, Cerita Rakyat Daerah Maluku (1982) yang dihimpun oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan sebagai Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah. Pemerintah berotoritas menghimpun cerita rakyat sebagai cara merawat warisan budaya. Ada fabel berjudul Kebun Milik Bersama Kera dan Kura-Kura.

Cerita bermula dari kera yang mengajak kura-kura menggarap kebun. Diputuskan keduanya berbagi tugas. Masa bercocok tanam, kura-kura mengerjakan dengan tekun setiap kebun. Kera membayar ongkos pekerjaan yang dilakukan kura-kura untuk kebunnya. Musim berbuah tiba. Kera merasa girang dan berpikir bahwa kura-kura yang tidak bisa memanjat tidak akan menikmati hasil. Bertambah hari, jagung, cabe, padi, pisang, dan terong raib dicuri kera. Saat kura-kura mengadu, kera berpura-pura tidak tahu. Akhirnya, kura-kura memergoki kera yang tengah mengambil pisang. Kera pun terhukum untuk membayar kerugian atas segala kerja kura-kura.

Fabel tidak selalu langsung mennyerukan hikmah secara kolektif layaknya ceramah-ceramah. Binatang adalah khasanah yang amat dekat dengan anak-anak. Binatang berbicara tentang kejujuran, rasa cukup, keserakahan, tanggung jawab, dan kerja keras. Guru dan orang tua bisa belajar dari fabel.         

Sebelum kebun binatang merebut dan mengurung konsepsi kebinatangan kita, tamsil telah ada sebagai ingatan cara mencipta sifat diri. Binatang tidak sekadar simbol dalam iklan, logo, tontonan, kemasan, hiasan ruang, atau hidangan. Namun, juga makna yang memberi siraman pekerti.

Ditulis oleh:Setyaningsih, penulis buku Melulu Buku (2015).

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar