Budi Pekerti dan Pendidikan Karakter

Arti penting pendidikan anak usia dini (PAUD) tampaknya telah lama menjadi perhatian dunia internasional. Badan PBB di bidang pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan  (Unesco) misalnya telah mengawali program pendidikan bagi anak-anak usia dini pada tahun 1950 dan 1960, yang dikenal dengan nama World Organization for Early Chilhood Education. Setelah tiga dekade  program PAUD memperoleh perhatian yang serius, akhirnya pada 5-9 Maret 1990 diselenggarakan ”Konferensi Dunia tentang Pendidikan untuk Semua” di Jomtien, Thailand, yang menghasilkan deklarasi bersama.

Dalam World Declaration on Education for All (artikel kelima tentang perluasan sarana dan cakupan pendidikan dasar) disebutkan, “belajar dimulai sejak anak lahir”.  Pernyataan ini berkenaan dengan pendidikan dan pengasuhan bagi anak sejak dini, yang bisa diberikan melalui rancangan yang melibatkan keluarga,  komunitas, atau program kelembagaan yang tepat.  

Jean Jacques Rousseau (1712-1778) misalnya pernah menyebutkan pentingnya pendidikan bagi anak sejak lahir. Rousseau juga percaya bahwa pendidikan ini harus didasarkan pada dunia alami anak-anak (the nature of children), bukan pada keinginan orang dewasa.

 

Dengan demikian PAUD bukan untuk menjejali anak-anak dengan berbagai macam ilmu pengetahuan dan pelajaran seperti di sekolah dasar. PAUD merupakan arena bermain bagi anak yang sedang tumbuh dalam periode emasnya (golden age) untuk mengembangkan potensi kognitif, afektif, dan psikomotorik. Pengenalan watak, perilaku baik dan pembiasaan hal-hal yang positif akan lebih mudah diserap oleh anak-anak  melalui contoh dan metode belajar yang menyenangkan, penuh warna dan sarat permainan.

Karena itu, PAUD bisa menjadi wahana kondusif  bagi pemekaran bakat, pembentukan sikap,  dan pendidikan karakter (character education). Pilihan ini strategis, selain karena peluang daya lekat dan internalisasinya bisa menyatu dalam kepribadian anak-anak, juga pendidikan karakter akan menjadi landasan yang kuat di jenjang pendidikan formal selanjutnya atau menjadi bekal berharga dalam kehidupan mereka sebagai manusia pembelajar.  Dalam kondisi pendidikan di negeri kita dewasa ini yang masih menyisakan keprihatinan dan pekerjaan rumah yang banyak,  maka pendidikan karakter menjadi keniscayaan untuk diprioritaskan.

Beberapa tahun yang lalu, ketika pusingnya dunia pendidikan di Indonesia diperbincangkan, ilmuwan Prof. Dr. Teuku Jacob (2004) pernah mengingatkan agar peranan besar pendidikan dalam pembinaan budi pekerti jangan dilupakan. Dibandingkan dengan pendidikan budi pekerti, maka pendidikan karakter lebih luas dan komprehensif. Bisa dikatakan, budi pekerti merupakan bagian dari pendidikan karakter. Karena itu beralasan jika ahli pendidikan Ratna Megawangi menyebutkan bahwa pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan, perasaan, dan tindakan.

Di samping itu, pendidikan karakter bisa dipahami sebagai sebuah ”istilah payung”  (an umbrella term) yang secara umum dipakai untuk menggambarkan pengajaran anak-anak dalam suatu perangkat yang akan membantu mereka untuk berkembang sebagai makhluk personal dan makhluk sosial. Konsep ini juga meliputi pembelajaran sosial dan emosional, pengembangan penalaran moral, keterampilan hidup, dan pencegahan kekerasan.

Tanpa harus terbelenggu pada konsep dan istilah akademis yang polemis dan debatable, pendidikan karakter di PAUD bisa diselenggarakan secara bersahaja dan bijak, sesuai dengan alam pikiran anak-anak dan dunia bermainnya. Dengan ikhtiar seperti ini, maka cita-cita untuk mewujudkan anak Indonesia yang berakhlak mulia,  cerdas, sehat, dan ceria akan menjadi kenyataan. *

Asep Purnama Bahtiar, dosen FAI Universitas Muhammadiyah Yogyakarta; pemerhati dunia pendidikan.

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar